--: Dewata News -- Media Partner Informasi Anda :--
Sejenak Menengok Desa Tua di Buleleng

Sejenak Menengok Desa Tua di Buleleng

Batu Gambir Desa Julah
BULELENG,
Jika anda suka wisata sejarah terutama peninggalan-peninggalan sejarah megalitik, berkunjunglah ke Desa Julah Dan Desa Sembiran, yang terletak sekitar 30 Km timur kota Singaraja, dan merupakan wilayah kecamatan Tejakula, Buleleng. Tidak seperti desa kuno lainnya di Bali, Desa Julah Dan Desa Sembiran memiliki peninggalan yang sama, yaitu berupa batu-batu besar yang diyakini berusia 2000 tahun sebelum masehi, jadi kedua desa ini adalah desa tertua di Bali. Di Desa Julah terdapat sebuah situs yaitu Situs Batu Gambir Upit. Dalam temuan di situs ini terdapat beberapa buah artefak dan ekofak, baik yang merupakan temuan lepas ataupun temuan asosiasi. Temuan lainnya berupa fragmen gerabah merupakan temuan yang paling banyak dihasilkan dengan tipe-tipe semisal tipe piring, paus, kendi, dan tutup. Sedangkan di Desa Sembiran, Prof. Ketut Rindjin dalam sejarah singkat Desa Sembiran mengungkapkan, 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi ditemukan di kawasan Desa Sembiran pada tahun 1961 oleh R.P Soejono yang kemudian dikelompokkan menjadi lima perabotan kuno. Ada jenis perabotan berbentuk pipih dari besi, alat pemotong persegi dari batu, kapak tangan dari batu, palu yang terbuat dari batu dan serpihan beberapa perabot dari batu, namun dari temuan itu tidak satupun fosil yang ditemukan sampai sekarang, ungkap Prof. Rindjin. Selain penemuan 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi, di Desa Sembiran juga ditemukan 17 Pura dengan ciri batu besar. Diperkirakan batu-batu besar tersebut dibuat pada jaman megalithicum (jaman batu) yang digunakan sebagai tempat persembahyangan. Dan yang paling penting adalah ditemukannya 20 prasasti perunggu dan sebagian berada di Desa Julah dan sebagian lagi di Desa Sembiran. Prasasti ini menceritakan sejarah kedua desa ini pada masa pemerintahan kerjaan Bali Kuna. Dan untuk melestarikan budaya desa tua ini, telah di bangun kembali sebuah rumah tua yang sesuai dengan bentuk aslinya, yang pembangunannya dibiaya oleh pemerintah Kabupaten Buleleng. Selain memiliki rumah tua yang unik dan tidak ada duanya di Bali, desa-desa ini juga memiliki potensi seni dan adat istiadat yang masih bertahan hingga saat ini, bahkan beberapa tarian sakral masih dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara di desa setempat, sedangkan pada adat istiadat, warga desa sembiran masih tetap memegang tradisi budaya lama bali baik dalam lingkungan keluarga maupun bermasyarakat.

Batu Gambir Desa Julah
BULELENG,
Jika anda suka wisata sejarah terutama peninggalan-peninggalan sejarah megalitik, berkunjunglah ke Desa Julah Dan Desa Sembiran, yang terletak sekitar 30 Km timur kota Singaraja, dan merupakan wilayah kecamatan Tejakula, Buleleng. Tidak seperti desa kuno lainnya di Bali, Desa Julah Dan Desa Sembiran memiliki peninggalan yang sama, yaitu berupa batu-batu besar yang diyakini berusia 2000 tahun sebelum masehi, jadi kedua desa ini adalah desa tertua di Bali. Di Desa Julah terdapat sebuah situs yaitu Situs Batu Gambir Upit. Dalam temuan di situs ini terdapat beberapa buah artefak dan ekofak, baik yang merupakan temuan lepas ataupun temuan asosiasi. Temuan lainnya berupa fragmen gerabah merupakan temuan yang paling banyak dihasilkan dengan tipe-tipe semisal tipe piring, paus, kendi, dan tutup. Sedangkan di Desa Sembiran, Prof. Ketut Rindjin dalam sejarah singkat Desa Sembiran mengungkapkan, 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi ditemukan di kawasan Desa Sembiran pada tahun 1961 oleh R.P Soejono yang kemudian dikelompokkan menjadi lima perabotan kuno. Ada jenis perabotan berbentuk pipih dari besi, alat pemotong persegi dari batu, kapak tangan dari batu, palu yang terbuat dari batu dan serpihan beberapa perabot dari batu, namun dari temuan itu tidak satupun fosil yang ditemukan sampai sekarang, ungkap Prof. Rindjin. Selain penemuan 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi, di Desa Sembiran juga ditemukan 17 Pura dengan ciri batu besar. Diperkirakan batu-batu besar tersebut dibuat pada jaman megalithicum (jaman batu) yang digunakan sebagai tempat persembahyangan. Dan yang paling penting adalah ditemukannya 20 prasasti perunggu dan sebagian berada di Desa Julah dan sebagian lagi di Desa Sembiran. Prasasti ini menceritakan sejarah kedua desa ini pada masa pemerintahan kerjaan Bali Kuna. Dan untuk melestarikan budaya desa tua ini, telah di bangun kembali sebuah rumah tua yang sesuai dengan bentuk aslinya, yang pembangunannya dibiaya oleh pemerintah Kabupaten Buleleng. Selain memiliki rumah tua yang unik dan tidak ada duanya di Bali, desa-desa ini juga memiliki potensi seni dan adat istiadat yang masih bertahan hingga saat ini, bahkan beberapa tarian sakral masih dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara di desa setempat, sedangkan pada adat istiadat, warga desa sembiran masih tetap memegang tradisi budaya lama bali baik dalam lingkungan keluarga maupun bermasyarakat.

Sejenak Menengok Desa Tua di Buleleng
http://3.bp.blogspot.com/-5q7hE56f_cM/U9m97o0rplI/AAAAAAAACq0/qSawLdg8SmU/s72-c/situs-batu-gambir3.jpg
Baca
Sejenak Melihat Wisata Argo Buleleng

Sejenak Melihat Wisata Argo Buleleng

Anggur Buleleng
BULELENG,
Siapa bilang negara tropis seperti Indonesia bukan tempat yang baik untuk budidaya anggur? Buktinya, Anda bisa berkeliling di kebun anggur sekaligus mencoba wine lokal dengan cita rasa dunia di kawasan Buleleng, Bali Utara.

Kawasan Buleleng di Bali belahan Utara ini punya banyak destinasi wisata termasuk pura dan persawahan indah yang tentunya memanjakan mata. Dulu kawasan ini juga tersohor sebagai penghasil anggur lokal yang dikenal sampai mancanegara.
Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, perkebunan anggur mengalami penyempitan akibat dari alih fungsi lahan yang tidak terkontrol. selain dari faktor manusia, faktor Cuaca yang ekstrim juga mengakibatkan matinya tanaman anggur di tempat ini. Namun, ada satu perkebunan anggur yang masih bertahan hingga saat ini.

Kebun Anggur Indico tersohor sebagai penghasil minuman anggur yang konon bercitarasa nikmat. Tak heran, kebun yang terletak di Jl Raya Puputan, Kabupaten Singaraja ini jadi destinasi wisata bagi turis domestik maupun mancanegara.

Anggur yang dihasilkan Indico adalah yang terbaik di Pulau Bali. Selain wine merah dan putih, anggur hasil panen juga diolah menjadi bir, wiski, cognac, dan beragam jenis minuman alkohol lain. Hasil produksi ini lalu dipasok ke berbagai restoran, hotel, hingga bar di seantero Bali.

Terletak di atas bukit, kebun anggur ini punya lanskap hijau nan cantik. Anda bisa berkeliling sambil melihat anggur yang sedang panen, atau masuk ke dalam pabrik untuk melihat proses produksi. Anda bisa lihat langsung proses membuat minuman anggur tanpa dipungut biaya apa pun!



Anggur Buleleng
BULELENG,
Siapa bilang negara tropis seperti Indonesia bukan tempat yang baik untuk budidaya anggur? Buktinya, Anda bisa berkeliling di kebun anggur sekaligus mencoba wine lokal dengan cita rasa dunia di kawasan Buleleng, Bali Utara.

Kawasan Buleleng di Bali belahan Utara ini punya banyak destinasi wisata termasuk pura dan persawahan indah yang tentunya memanjakan mata. Dulu kawasan ini juga tersohor sebagai penghasil anggur lokal yang dikenal sampai mancanegara.
Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, perkebunan anggur mengalami penyempitan akibat dari alih fungsi lahan yang tidak terkontrol. selain dari faktor manusia, faktor Cuaca yang ekstrim juga mengakibatkan matinya tanaman anggur di tempat ini. Namun, ada satu perkebunan anggur yang masih bertahan hingga saat ini.

Kebun Anggur Indico tersohor sebagai penghasil minuman anggur yang konon bercitarasa nikmat. Tak heran, kebun yang terletak di Jl Raya Puputan, Kabupaten Singaraja ini jadi destinasi wisata bagi turis domestik maupun mancanegara.

Anggur yang dihasilkan Indico adalah yang terbaik di Pulau Bali. Selain wine merah dan putih, anggur hasil panen juga diolah menjadi bir, wiski, cognac, dan beragam jenis minuman alkohol lain. Hasil produksi ini lalu dipasok ke berbagai restoran, hotel, hingga bar di seantero Bali.

Terletak di atas bukit, kebun anggur ini punya lanskap hijau nan cantik. Anda bisa berkeliling sambil melihat anggur yang sedang panen, atau masuk ke dalam pabrik untuk melihat proses produksi. Anda bisa lihat langsung proses membuat minuman anggur tanpa dipungut biaya apa pun!



Sejenak Melihat Wisata Argo Buleleng
http://1.bp.blogspot.com/-__r2AHmIStE/U9i4akZzsRI/AAAAAAAACqk/k42osrlPeV4/s72-c/kebun+anggur.jpg
Baca
Semua Pegawai Akan Mengenakan Kain Endek Singa Ambara Raja

Semua Pegawai Akan Mengenakan Kain Endek Singa Ambara Raja

BULELENG,
Banyak cara untuk menggairahkan UKM di Buleleng. Salah satu langkah jitu yang diterobos Bupati PAS untuk memajukan UKM kain endek di Buleleng yang terbilang lesu pesanan adalah dengan cara menghimbau semua pegawai di lingkup Pemkab.Buleleng memakai pakaian seragam kain endek yang diproduksi oleh UKM kain endek di Buleleng. Yang unik motif kain endek ini sangat khas memvisualkan Singa Ambara Raja lambang Pemkab.Buleleng. Rencananya pemakaian secara serentak dilakukan mulai hari Kamis pada bulan Agustus mendatang. Terkait pemesanan kain endek itu , jelas Bupati PAS pencanang Buleleng Smile, tidak melalui proses tender karena setiap SKPD sesuai jumlah pegawainya melakukan pemesanan langsung ke sejumlah UKM  kain endek di Buleleng. Pemakaian seragam endek motif Singa Ambara Raja yang dikerjakan oleh UKM  kain endek di Buleleng, selain memberikan semangat dan kebangaan tersendiri bagi pegawai Pemkab.Buleleng juga berdampak positip membangkitkan para UKM kain endek Buleleng yang selama ini lesu dan kurang mendapat promosi padahal potensinya besar.


BULELENG,
Banyak cara untuk menggairahkan UKM di Buleleng. Salah satu langkah jitu yang diterobos Bupati PAS untuk memajukan UKM kain endek di Buleleng yang terbilang lesu pesanan adalah dengan cara menghimbau semua pegawai di lingkup Pemkab.Buleleng memakai pakaian seragam kain endek yang diproduksi oleh UKM kain endek di Buleleng. Yang unik motif kain endek ini sangat khas memvisualkan Singa Ambara Raja lambang Pemkab.Buleleng. Rencananya pemakaian secara serentak dilakukan mulai hari Kamis pada bulan Agustus mendatang. Terkait pemesanan kain endek itu , jelas Bupati PAS pencanang Buleleng Smile, tidak melalui proses tender karena setiap SKPD sesuai jumlah pegawainya melakukan pemesanan langsung ke sejumlah UKM  kain endek di Buleleng. Pemakaian seragam endek motif Singa Ambara Raja yang dikerjakan oleh UKM  kain endek di Buleleng, selain memberikan semangat dan kebangaan tersendiri bagi pegawai Pemkab.Buleleng juga berdampak positip membangkitkan para UKM kain endek Buleleng yang selama ini lesu dan kurang mendapat promosi padahal potensinya besar.


Semua Pegawai Akan Mengenakan Kain Endek Singa Ambara Raja
http://1.bp.blogspot.com/-JH8iLaXcGio/U9i3hHIY9YI/AAAAAAAACqc/mwL4UDkVXQY/s72-c/endek+buleleng+2.gif
Baca
Kain Lokal Buleleng Kurang Promosi

Kain Lokal Buleleng Kurang Promosi

Kain Endek Buleleng

BULELENG,
BISNIS busana adat ke pura di Kabupaten Buleleng belakangan ini kian menjamur. Toko yang spesial menjual beragam busana adat ke pura dan aksesorisnya semakin mudah ditemui di perkotaan dan pedesaan.
Sayangnya, dari sekian banyak toko penjual busana adat ke pura tersebut, kebanyakan memasarkan kain yang diproduksi dari luar daerah. Hanya beberapa toko saja yang memajang kain produksi lokal Buleleng. Salah satunya Toko Warna Bali Colection di Jalan Ahmad Yani, Singaraja.
Pemilik toko Warna Bali Colektion Nyoman Harta Prastiwi mengatakan dari segi kualitas kain lokal Buleleng tidak kalah dengan kain yang diproduksi dari luar daerah. Hanya saja, karena minat pelanggan yang cenderung memilih kain dari luar daerah yang notabene sedang ngetren. Meski demikian sebagai penekun bisnis busana adat ke pura, Prastiwi memiliki tekad untuk tetap memajang kain lokal Buleleng.
“Kalau dari peminat memang pembeli masih banyak yang mencari kain dari luar daerah dibandingkan kain lokal, ini karena berbeberapa petimbangan salah satunya konsumen cenderung memilih desain kain yang variatif dan ngetren dengan era saat ini,” katanya.
Menurut mantan karyawan bank swasta ini, produk kain lokal Buleleng akhir-akhir ini mulai dilirik konsumennya. Salah satunya adalah kain endekmastuli yang diproduksi oleh perajin di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Endek buatan lokal ini kuwalitas nya sangat bagus dan desainnya mulai mengikuti tren saat ini. Kain ini belakangan mulai banyak dipesan oleh pelanggannya baik dari kalangan pegawai pemerintahan maupun suasta. “Ini salah satunya endek mastuli yang mulai ramai peminat dan kualitasnya sangat bagus dengan desain yang mengikuti tren saat ini,” katanya.
Selain endek mastuli lanjut perempuan murah senyum ini, satu lagi kain lokal Buleleng yang tidak kalah bagus kualitasnya, sebut saja kain songket Artha Dharma yang mulai meramaikan pasaran. Hanya saja kain ini dari segi harga jauh lebih mahal dibandingkan jenis kain lainnya. Permintaanya juga mulai ramai ketika memasuki musim warga menggelar upacara agama. Hal ini tidak lepas dari pemakaian kain sejenis songket ini cocok untuk menghadiri acara pesta keagamaan maupun sedang melaksanakan hari raya perkawinan, potong gigi, dan upacara Hindu lainnya.
\“Saya kira kain lokal ada peminatnya dan sekarang tergantung penekun bisnisnya pintar-pintar untuk mengemas dan mempromosikan produk yang kita pasarkan dan bagi saya kain lokal Buleleng memiliki daya jual tinggi,” imbuh Harta Prastiwi.























Kain Endek Buleleng

BULELENG,
BISNIS busana adat ke pura di Kabupaten Buleleng belakangan ini kian menjamur. Toko yang spesial menjual beragam busana adat ke pura dan aksesorisnya semakin mudah ditemui di perkotaan dan pedesaan.
Sayangnya, dari sekian banyak toko penjual busana adat ke pura tersebut, kebanyakan memasarkan kain yang diproduksi dari luar daerah. Hanya beberapa toko saja yang memajang kain produksi lokal Buleleng. Salah satunya Toko Warna Bali Colection di Jalan Ahmad Yani, Singaraja.
Pemilik toko Warna Bali Colektion Nyoman Harta Prastiwi mengatakan dari segi kualitas kain lokal Buleleng tidak kalah dengan kain yang diproduksi dari luar daerah. Hanya saja, karena minat pelanggan yang cenderung memilih kain dari luar daerah yang notabene sedang ngetren. Meski demikian sebagai penekun bisnis busana adat ke pura, Prastiwi memiliki tekad untuk tetap memajang kain lokal Buleleng.
“Kalau dari peminat memang pembeli masih banyak yang mencari kain dari luar daerah dibandingkan kain lokal, ini karena berbeberapa petimbangan salah satunya konsumen cenderung memilih desain kain yang variatif dan ngetren dengan era saat ini,” katanya.
Menurut mantan karyawan bank swasta ini, produk kain lokal Buleleng akhir-akhir ini mulai dilirik konsumennya. Salah satunya adalah kain endekmastuli yang diproduksi oleh perajin di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Endek buatan lokal ini kuwalitas nya sangat bagus dan desainnya mulai mengikuti tren saat ini. Kain ini belakangan mulai banyak dipesan oleh pelanggannya baik dari kalangan pegawai pemerintahan maupun suasta. “Ini salah satunya endek mastuli yang mulai ramai peminat dan kualitasnya sangat bagus dengan desain yang mengikuti tren saat ini,” katanya.
Selain endek mastuli lanjut perempuan murah senyum ini, satu lagi kain lokal Buleleng yang tidak kalah bagus kualitasnya, sebut saja kain songket Artha Dharma yang mulai meramaikan pasaran. Hanya saja kain ini dari segi harga jauh lebih mahal dibandingkan jenis kain lainnya. Permintaanya juga mulai ramai ketika memasuki musim warga menggelar upacara agama. Hal ini tidak lepas dari pemakaian kain sejenis songket ini cocok untuk menghadiri acara pesta keagamaan maupun sedang melaksanakan hari raya perkawinan, potong gigi, dan upacara Hindu lainnya.
\“Saya kira kain lokal ada peminatnya dan sekarang tergantung penekun bisnisnya pintar-pintar untuk mengemas dan mempromosikan produk yang kita pasarkan dan bagi saya kain lokal Buleleng memiliki daya jual tinggi,” imbuh Harta Prastiwi.























Kain Lokal Buleleng Kurang Promosi
http://1.bp.blogspot.com/-uf6YWeQOwdM/U9i2SqaL9SI/AAAAAAAACqQ/1icx-rAAb4Q/s72-c/endek+buleleng.jpg
Baca
Teluk Pemuteran, Kisah Sukses Komunitas Desa Mengembalikan Terumbu Karang dari Kehancuran

Teluk Pemuteran, Kisah Sukses Komunitas Desa Mengembalikan Terumbu Karang dari Kehancuran

BULELENG,
Sepuluh tahun silam, jika anda berwisata ke Bali pernahkah anda merencanakan untuk menengok kawasan Teluk Pemuteran di Kabupaten Buleleng, Bali Utara? Mungkin anda saat itu justru akan bertanya, ada apa di Pemuteran?
Kini, seiring berjalannya waktu Teluk Pemuteran tak lagi jadi tujuan wisata nomor dua, namun sukses berevolusi menjadi salah satu tujuan wisata kelautan yang menjanjikan keindahan Bali dari sisi yang berbeda. Keindahan terumbu karang, ketenangan lokasi, dan keramahan warganya menjadi buruan wisatawan yang menjauhi berbagai keriuhan wisata belanja dan kehidupan malam a la kawasan selatan Bali, seperti di Seminyak atau Legian.
Desa Pemuteran, adalah sebuah desa kecil di tepian pantai yang menghadap ke Laut Bali, dan hanya berjarak sekitar 15 kilometer dengan kawasan Taman Nasional Bali Barat. Desa dengan jumlah penduduk sekitar 8000 orang ini, dulu adalah sebuah kawasan kering kerontang dengan kondisi alam serta perairan yang sangat memprihatinkan. Tanaman yang bisa tumbuh di ladang penduduk, hanyalah jagung dan kacang-kacangan, itu hanya bisa panen setahun satu kali akibat jarangnya curah hujan di kawasan ini. Perairan pun tak kalah menyedihkan. Aktivitas nelayan yang mencari jalan pintas dalam mencari ikan dengan menggunakan bom ikan serta racun, membuat keindahan terumbu karang kawasan ini hancur lebur. Kemiskinan, menjerat penduduk untuk terus merusak alam sekitar mereka.
Siapa sangka, kawasan ini dulunya adalah sebuah ladang jagung kering yang tidak memberi harapan. Kini semua berubah, setelah sektor pariwisata berbasis lingkungan semakin berkembang di Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
Namun, semua perlahan berubah sejak tahun 1989 silam. Seorang pria bernama I Gusti Agung Prana, memulai gerakannya untuk mengubah wajah kawasan Desa Pemuteran ini menjadi sebuah wilayah yang bernilai. Kawasan yang tak hanya bernilai bagi wisatawan, namun yang terpenting adalah bernilai bagi seluruh penduduk yang tinggal di desa tersebut. Awalnya, idenya untuk mengubah wajah kawasan ini, dengan cara menjaga kelestarian alam agar mengubah nasib para warga setempat mendapat tertawaan dari banyak orang di wilayah tersebut.
“Memang begitu masuk dan memulai upaya ini, saya terkesan ada sesuatu yang mempunyai nilai tinggi dan itu tidak bisa diidentifikasi oleh penduduk setempat karena tertutup oleh kerusakan dan kehancuran. Baik di laut maupun di darat, itu menutupi potensi yang besar yang dimiliki. Dan saat saya sampaikan niat untuk mengubah hal ini saya sampaikan kepada penduduk setempat, saya malah ditertawakan oleh penduduk. Begitu juga saat saya menyampaikan niat saya untuk membeli tanah sebesar 10 Are  (1000 meter persegi) di kawasan ini untuk tempat persinggahan, saya lagi-lagi ditertawai. Saat itu tanah di kawasan ini bisa didapat dengan harga antara 50 ribu hingga 200 ribu rupiah per 100 meter persegi. Dari rencana awal membeli 10 Are, malah menjadi 8 hektar karena penduduk berbondong-bondong memberikan tanah mereka untuk dijual akibat ketidakpahaman mereka terhadap potensi wilayah mereka,” ungkap I Gusti Agung Prana kepada Mongabay-Indonesia.
I Gusti Agung Prana, mimpinya memberdayakan warga di sekitar Pemuteran, sempat menjadi bahan tertawaan. Kini, dunia bahkan mengakui kerja keras pria Bali ini. Foto: Aji Wihardandi
Usai membeli tanah ini, pendekatan budaya dan spiritual berdasar ajaran agama Hindu dilakukan oleh I Gusti Agung Prana untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya mengubah basib mereka dengan menjaga alam sekitar. Dua tahun pertama sejak membeli tanah ini, dihabiskan oleh pria ini untuk membuat masyarakat mengerti, lewat berbagai cara. Mulai dari berdiskusi di pura, bertandang ke rumah-rumah kepala adat, mengajak mereka menikmati sajian hiburan rakyat denagn pesan-pesan alam, serta mengajak para tokoh adat dan sejumlah warga untuk berwisata ke kawasan selatan Bali agar mendapat gambaran, bagaimana sektor pariwisata mengubah nasib banyak orang. “Saat itu saya ajak mereka ke Kuta dan Nusa Dua, saya beritahukan kepada mereka, bahwa mereka bisa lebih kaya dari orang-orang ini, dan bisa mengubah nasib,” cerita Agung Prana.
Namun penolakan tetap muncul pada awalnya. Kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan, membuat sebagian penduduk menyampaikan penolakan atas ide Agung Prana tersebut. “Laut itu kan milik kita, mengapa harus dilarang untuk mencari ikan. Nah hal seperti ini seringkali disampaikan oleh penduduk yang merasa terancam mata pencahariannya dari mencari ikan. Namun kami tidak melarang, kami hanya harus membagi zona-zona laut menjadi kawasan yang boleh mencari ikan dan kawasan yang harus dijaga karena sebagai tempat perkembangbiakan ikan. Jika rumah ikannya dirusak, maka mereka juga tidak akan bisa mencari ikan, karena ikannya tidak berkembang,” ungkap salah seorang mantan kepala desa di Pemuteran, Wayan Merta.
Turis mancanegara, bukan lagi pemandangan yang asing di Pemuteran. Dulu, warga pun enggan berjalan di wilayah yang kering kerontang ini. Foto: Aji Wihardandi
Awalnya, sebuah hotel kecil dengan 12 kamar pun dibuka oleh I Gusti Agung Prana. Satu demi satu tamu mulai berdatangan, dan ekonomi mulai menggeliat. Proses mengubah pola pikir masyarakat, kini mulai berhadapan dengan praktek wisata secara nyata di lapangan. Sejumlah penduduk setempat, dilibatkan secara aktif dalam mengelola tempat penginapan ini sebagai karyawan. “Dan ternyata mereka sangat bersemangat. Mereka memiliki kemampuan yang baik dalam bekerja. Kemelaratan telah memberikan pelajaran hidup bagi mereka. Dan orang yang memulai dari kemelaratan, biasanya jauh lebih bersyukur dibandingkan dengan orang yang sudah memiliki segalanya,” ungkap Agung Prana lebih jauh. Kini, resort bernama Taman Sari ini menjelma menjadi salah satu resort paling tua di kawasan Pemuteran.
Keterlibatan masyarakat secra aktif lewat lembaga yang mewadahi aktivitas masyarakat, menjadi kunci utama dalam pengembangan kawasan Desa Pemuteran ini menjadi sebuah kawasan wisata yang berkelas seperti saat ini. Lewat lembaga bernama Yayasan Karang Lestari ini semua warga dan perangkat desa, akhirnya menyadari bahwa alam memberikan karunia yang tidak akan pernah habis bagi mereka, jika mereka mampu menjaganya. “Masyarakat mendukung karena merasakan dan mandapatkan manfaatnya,” sambung Wayan Merta lebih lanjut. Tidak hanya menjaga, patroli laut kini juga secara rutin dilakuka oleh para pecalang laut yang bertugas menjaga perairan Pemuteran, serta mencegah praktek-praktek pengambilan ikan yang tidak sehat. Hingga kini, ancaman dari nelayan-nelayan yang memasuki Pemuteran untuk mengambil ikan, masih terus terjadi. 
Terumbu karang di Pemuteran, kini kembali tumbuh dan mengundang ikan-ikan kembali ke wilayah ini. Foto: Aji Wihardandi
Mengembalikan Terumbu Karang, Membangun Kembali Keindahan Laut Pemuteran
Sukses wisata di Pemuteran, terkait erat dengan dua hal besar. Pertama adalah kuatnya dukungan masyarakat setempat terhadap perubahan. Kedua, kesuksesan metode Biorock, yang berhasil mengembalikan terumbu karang yang rusak akibat pengambilan ikan dengan peledak dan racun di masa lalu.
Metode Biorock ini diinisiasi oleh dua ahli biologi laut asal Amerika, Tom Goreau dan pakar asal Jerman, Wolf Hilbertz yang diperkenalkan kepada I Gusti Agung Prana di tahun 1999 silam, dan mulai menanam kerangka-kerangka untuk menumbuhkan terumbu karang tahun 2000 silam. Lewat metode inilah, biorock untuk pertamakalinya berhasil dipraktekkan secara sempurna di lapangan, dan merupakan proyek biorock paling sukses di lapangan.
Kejernihan air laut di Pemuteran, tak hanya mengembalikan ikan, namun juga mengundang ribuan wisatawan setiap tahunnya. Foto: Aji Wihardandi
Secara sederhana, metode ini adalah mengalirkan listrik dalam tegangan rendah ke kerangka-kerangka yang sudah ditempeli dengan bibit terumbu karang dan ditaruh di dasar perairan. Alran listrik bertegangan rendah inilah yang kemudian menimbulkan reaksi kimia positif bagi bibit-bibit terumbu karang yang sudah ditempelkan ini. Reaksi kimia ini memancing pertumbuhan kapur secara masif untuk bibit terumbu karang.
Hingga kini sudah sekitar 77 struktur besi yang diturunkan ke perairan di sekitar desa Pemuteran sejak pertamakali diturunkan lebih dari satu dekade silam. Kerangka yang dibuat dalam berbagai bentuk ini kini berhasil mengembalikan berbagai jenis ikan untuk kembali ke perairan di Pemuteran setelah sempat hilang akibat kerusakan terumbu karang akibat pemboman.
Terumbu karang, kini tumbuh subur di perairan Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
“Jika dengan metode penanaman biasa, terumbu karang itu normalnya tumbuh sekitar 1-2 sentimeter setiap tahun, namun dengan metode biorock terumbu karang ini bisa tumbuh dua hingga enam kali lipat lebih cepat dengan tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia,” ungkap Komang, Manajer Biorock di Tamansari Bali.  “Proyek ini adalah yang pertamakali di Indonesia, sekaligus terbesar. Semua karena adanya kesadaran dan keterlibatan masyarakat secara penuh.Ada beberapa proyek serupa biorock di tempat lain, tetapi tidak sepenuhnya berhasil seperti di Pemuteran karena tidak kuatnya dukungan dari masyarakat,” tambah Komang.
Kini ratusan spesies ikan kembali ke rumah mereka di Pemuteran, dan setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Ke depannya, proyek biorock ini akan mengembangkan sumber energi listrik dari tenaga surya dengan memasang panel surya di sekitar pantai untuk memastikan bahwa proyek ini memang sangat ramah lingkungan. Kendati biaya operasional masih kembang kempis, namun Komang yakin dengan kesuksesan yang diraih lewat biorock ini, masa depan wisata dan warga di wilayah ini akan semakin baik di masa mendatang.
Kini, apapun yang anda butuhkan, Pemuteran menyediakannya. Foto: Aji Wihardandi
Alam Lestari, Kembalinya Harapan Hidup Warga Pemuteran
Wajah desa Pemuteran kini berubah total. Dari sebuah desa kering kerontang tanpa gairah, kini menjadi sebuah kantung penghasilan yang memberikan kehidupan bagi warga setempat. Secara sosial dan ekonomi, berbagai perubahan kini dirasakan oleh masyarakat sekitar. “Ya syukurlah, sekarang sudah ada tempat bekerja. Dulu kami bingung mau kerja apa disini. Sejak ada pariwisata, anak-anak sekarang menjadi lebih rajin bersekolah. Dulu teman-teman saya jarang ada yang melanjutkan sekolah,” ungkap Gede Iswan, salah satu warga Pemuteran yang sudah 16 tahun bekerja di bidang jasa pariwisata.
Penduduk sekitar Pemuteran, kini bisa tersenyum setelah alam mereka kembali pulih dan mendatangkan rezeki dari sektor pariwisata. Foto: Aji Wihrdandi
Jika kita menyusuri jalan-jalan di seputar desa, kini berbagai layanan penunjang wisata banyak bertebaran di sepanjang jalan. Mulai dari penginapan, restoran dari berbagai kelas, jasa cuci baju, pemandu dan penyedia layanan snorkling dan menyelam, gerai suvenir, hingga layanan transportasi ke berbagai wilayah. “Dulu, mana ada rumah bagus di Pemuteran. sekarang kondisi rumah-rumah sudah jauh lebih baik disini. Jika dulu penduduk itu paling hanya satu dua orang yang memiliki motor, sekarang rata-rata satu rumah minimal memiliki satu motor sebagai alat transportasi mereka,” jelas Wayan Merta, mantan kepala desa di Pemuteran.
Gede Iswan, sudah 16 tahun dirinya bekerja di sektor pariwisata sejak awal Pemuteran berkembang menjadi lokasi wisata. Foto: Aji Wihardandi
Dari 8000 jumlah penduduk di Desa Pemuteran, kini 30% dari mereka adalah pekerja sektor pariwisata. Selebihnya masih menjadi petani, ataupun nelayan yang menjadi bagian dari wisata itu sendiri. Semua hotel dan penginapan di wilayah ini, mempekerjakan penduduk setempat sebagai karyawan. Hanya segelintir penduduk yang berasal dari luar Pemuteran yang bekerja di sektor pariwisata di tempat ini, itu pun terbatas hanya di beberapa posisi strategis pengambil keputusan dan manajerial. Selebihnya, sekitar 90% karyawan, adalah penduduk lokal. Mereka bekerja di bagian pemeliharaan, makanan, pemandu selam, dan semua sektor dalam bidang jasa ini.
Pemuteran, Go International….
Kesadaran masyarakat menjaga alam sekitar mereka, dan kesuksesan I Gusti Agung Prana bersama dua pakar Biorock mengembalikan wajah terumbu karang dunia kini bahkan sudah dikenal dunia. berbagai penghargaan tingkat dunia, kini mereka kantungi sebagai bukti pengakuan dunia atas kerja keras mereka. Penghargaan paling prestisius diraih setahun silam, saat UNDP mengumumkan proyek biorock yang diinisiasi oleh I Gusti Agung Prana di Desa Pemuteran sebagai salah satu pemenang Equator Prize. Penghargaan ini diberikan kepada pahlawan-pahlawan lingkungan di seluruh dunia, yang mampu mengubah wajah alam dan lingkungan dan memberikan manfaat secara maksimal bagi manusia.
Pemuteran, menjadi salah satu dive site terbaik di Bali saat ini. Foto: Aji Wihardandi
Para wisatawan sendiri mengakui, Pemuteran adalah salah satu lokasi penyelaman yang akan mereka datangi kembali di masa mendatang setelah mereka merasakan keindahannya dalam kunjungan pertama mereka.
Papan peringatan bagi para penyelam, agar tidak merusak dan menginjak terumbu karang yang ada di perairan Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
Seperti yang disampaikan oleh salah satu wisatawan bernama Annette Denham, yang berasal dari Australia. “Ini adalah salah satu lokasi penyelaman terbaik yang pernah saya temui. Saya sudah menyelam ke berbagai wilayah penyelaman di dunia, dan Pemuteran memang indah. Saya akan kembali lagi suatu saat kemari. Tentu saja, saya salut atas kerja keras seluruh warga desa yang selama ini ikut menjaga keindahan dan keberlangsungan alam bawah laut di Pemuteran. Saya salut kepada mereka,” ungkap Annette.

BULELENG,
Sepuluh tahun silam, jika anda berwisata ke Bali pernahkah anda merencanakan untuk menengok kawasan Teluk Pemuteran di Kabupaten Buleleng, Bali Utara? Mungkin anda saat itu justru akan bertanya, ada apa di Pemuteran?
Kini, seiring berjalannya waktu Teluk Pemuteran tak lagi jadi tujuan wisata nomor dua, namun sukses berevolusi menjadi salah satu tujuan wisata kelautan yang menjanjikan keindahan Bali dari sisi yang berbeda. Keindahan terumbu karang, ketenangan lokasi, dan keramahan warganya menjadi buruan wisatawan yang menjauhi berbagai keriuhan wisata belanja dan kehidupan malam a la kawasan selatan Bali, seperti di Seminyak atau Legian.
Desa Pemuteran, adalah sebuah desa kecil di tepian pantai yang menghadap ke Laut Bali, dan hanya berjarak sekitar 15 kilometer dengan kawasan Taman Nasional Bali Barat. Desa dengan jumlah penduduk sekitar 8000 orang ini, dulu adalah sebuah kawasan kering kerontang dengan kondisi alam serta perairan yang sangat memprihatinkan. Tanaman yang bisa tumbuh di ladang penduduk, hanyalah jagung dan kacang-kacangan, itu hanya bisa panen setahun satu kali akibat jarangnya curah hujan di kawasan ini. Perairan pun tak kalah menyedihkan. Aktivitas nelayan yang mencari jalan pintas dalam mencari ikan dengan menggunakan bom ikan serta racun, membuat keindahan terumbu karang kawasan ini hancur lebur. Kemiskinan, menjerat penduduk untuk terus merusak alam sekitar mereka.
Siapa sangka, kawasan ini dulunya adalah sebuah ladang jagung kering yang tidak memberi harapan. Kini semua berubah, setelah sektor pariwisata berbasis lingkungan semakin berkembang di Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
Namun, semua perlahan berubah sejak tahun 1989 silam. Seorang pria bernama I Gusti Agung Prana, memulai gerakannya untuk mengubah wajah kawasan Desa Pemuteran ini menjadi sebuah wilayah yang bernilai. Kawasan yang tak hanya bernilai bagi wisatawan, namun yang terpenting adalah bernilai bagi seluruh penduduk yang tinggal di desa tersebut. Awalnya, idenya untuk mengubah wajah kawasan ini, dengan cara menjaga kelestarian alam agar mengubah nasib para warga setempat mendapat tertawaan dari banyak orang di wilayah tersebut.
“Memang begitu masuk dan memulai upaya ini, saya terkesan ada sesuatu yang mempunyai nilai tinggi dan itu tidak bisa diidentifikasi oleh penduduk setempat karena tertutup oleh kerusakan dan kehancuran. Baik di laut maupun di darat, itu menutupi potensi yang besar yang dimiliki. Dan saat saya sampaikan niat untuk mengubah hal ini saya sampaikan kepada penduduk setempat, saya malah ditertawakan oleh penduduk. Begitu juga saat saya menyampaikan niat saya untuk membeli tanah sebesar 10 Are  (1000 meter persegi) di kawasan ini untuk tempat persinggahan, saya lagi-lagi ditertawai. Saat itu tanah di kawasan ini bisa didapat dengan harga antara 50 ribu hingga 200 ribu rupiah per 100 meter persegi. Dari rencana awal membeli 10 Are, malah menjadi 8 hektar karena penduduk berbondong-bondong memberikan tanah mereka untuk dijual akibat ketidakpahaman mereka terhadap potensi wilayah mereka,” ungkap I Gusti Agung Prana kepada Mongabay-Indonesia.
I Gusti Agung Prana, mimpinya memberdayakan warga di sekitar Pemuteran, sempat menjadi bahan tertawaan. Kini, dunia bahkan mengakui kerja keras pria Bali ini. Foto: Aji Wihardandi
Usai membeli tanah ini, pendekatan budaya dan spiritual berdasar ajaran agama Hindu dilakukan oleh I Gusti Agung Prana untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya mengubah basib mereka dengan menjaga alam sekitar. Dua tahun pertama sejak membeli tanah ini, dihabiskan oleh pria ini untuk membuat masyarakat mengerti, lewat berbagai cara. Mulai dari berdiskusi di pura, bertandang ke rumah-rumah kepala adat, mengajak mereka menikmati sajian hiburan rakyat denagn pesan-pesan alam, serta mengajak para tokoh adat dan sejumlah warga untuk berwisata ke kawasan selatan Bali agar mendapat gambaran, bagaimana sektor pariwisata mengubah nasib banyak orang. “Saat itu saya ajak mereka ke Kuta dan Nusa Dua, saya beritahukan kepada mereka, bahwa mereka bisa lebih kaya dari orang-orang ini, dan bisa mengubah nasib,” cerita Agung Prana.
Namun penolakan tetap muncul pada awalnya. Kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan, membuat sebagian penduduk menyampaikan penolakan atas ide Agung Prana tersebut. “Laut itu kan milik kita, mengapa harus dilarang untuk mencari ikan. Nah hal seperti ini seringkali disampaikan oleh penduduk yang merasa terancam mata pencahariannya dari mencari ikan. Namun kami tidak melarang, kami hanya harus membagi zona-zona laut menjadi kawasan yang boleh mencari ikan dan kawasan yang harus dijaga karena sebagai tempat perkembangbiakan ikan. Jika rumah ikannya dirusak, maka mereka juga tidak akan bisa mencari ikan, karena ikannya tidak berkembang,” ungkap salah seorang mantan kepala desa di Pemuteran, Wayan Merta.
Turis mancanegara, bukan lagi pemandangan yang asing di Pemuteran. Dulu, warga pun enggan berjalan di wilayah yang kering kerontang ini. Foto: Aji Wihardandi
Awalnya, sebuah hotel kecil dengan 12 kamar pun dibuka oleh I Gusti Agung Prana. Satu demi satu tamu mulai berdatangan, dan ekonomi mulai menggeliat. Proses mengubah pola pikir masyarakat, kini mulai berhadapan dengan praktek wisata secara nyata di lapangan. Sejumlah penduduk setempat, dilibatkan secara aktif dalam mengelola tempat penginapan ini sebagai karyawan. “Dan ternyata mereka sangat bersemangat. Mereka memiliki kemampuan yang baik dalam bekerja. Kemelaratan telah memberikan pelajaran hidup bagi mereka. Dan orang yang memulai dari kemelaratan, biasanya jauh lebih bersyukur dibandingkan dengan orang yang sudah memiliki segalanya,” ungkap Agung Prana lebih jauh. Kini, resort bernama Taman Sari ini menjelma menjadi salah satu resort paling tua di kawasan Pemuteran.
Keterlibatan masyarakat secra aktif lewat lembaga yang mewadahi aktivitas masyarakat, menjadi kunci utama dalam pengembangan kawasan Desa Pemuteran ini menjadi sebuah kawasan wisata yang berkelas seperti saat ini. Lewat lembaga bernama Yayasan Karang Lestari ini semua warga dan perangkat desa, akhirnya menyadari bahwa alam memberikan karunia yang tidak akan pernah habis bagi mereka, jika mereka mampu menjaganya. “Masyarakat mendukung karena merasakan dan mandapatkan manfaatnya,” sambung Wayan Merta lebih lanjut. Tidak hanya menjaga, patroli laut kini juga secara rutin dilakuka oleh para pecalang laut yang bertugas menjaga perairan Pemuteran, serta mencegah praktek-praktek pengambilan ikan yang tidak sehat. Hingga kini, ancaman dari nelayan-nelayan yang memasuki Pemuteran untuk mengambil ikan, masih terus terjadi. 
Terumbu karang di Pemuteran, kini kembali tumbuh dan mengundang ikan-ikan kembali ke wilayah ini. Foto: Aji Wihardandi
Mengembalikan Terumbu Karang, Membangun Kembali Keindahan Laut Pemuteran
Sukses wisata di Pemuteran, terkait erat dengan dua hal besar. Pertama adalah kuatnya dukungan masyarakat setempat terhadap perubahan. Kedua, kesuksesan metode Biorock, yang berhasil mengembalikan terumbu karang yang rusak akibat pengambilan ikan dengan peledak dan racun di masa lalu.
Metode Biorock ini diinisiasi oleh dua ahli biologi laut asal Amerika, Tom Goreau dan pakar asal Jerman, Wolf Hilbertz yang diperkenalkan kepada I Gusti Agung Prana di tahun 1999 silam, dan mulai menanam kerangka-kerangka untuk menumbuhkan terumbu karang tahun 2000 silam. Lewat metode inilah, biorock untuk pertamakalinya berhasil dipraktekkan secara sempurna di lapangan, dan merupakan proyek biorock paling sukses di lapangan.
Kejernihan air laut di Pemuteran, tak hanya mengembalikan ikan, namun juga mengundang ribuan wisatawan setiap tahunnya. Foto: Aji Wihardandi
Secara sederhana, metode ini adalah mengalirkan listrik dalam tegangan rendah ke kerangka-kerangka yang sudah ditempeli dengan bibit terumbu karang dan ditaruh di dasar perairan. Alran listrik bertegangan rendah inilah yang kemudian menimbulkan reaksi kimia positif bagi bibit-bibit terumbu karang yang sudah ditempelkan ini. Reaksi kimia ini memancing pertumbuhan kapur secara masif untuk bibit terumbu karang.
Hingga kini sudah sekitar 77 struktur besi yang diturunkan ke perairan di sekitar desa Pemuteran sejak pertamakali diturunkan lebih dari satu dekade silam. Kerangka yang dibuat dalam berbagai bentuk ini kini berhasil mengembalikan berbagai jenis ikan untuk kembali ke perairan di Pemuteran setelah sempat hilang akibat kerusakan terumbu karang akibat pemboman.
Terumbu karang, kini tumbuh subur di perairan Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
“Jika dengan metode penanaman biasa, terumbu karang itu normalnya tumbuh sekitar 1-2 sentimeter setiap tahun, namun dengan metode biorock terumbu karang ini bisa tumbuh dua hingga enam kali lipat lebih cepat dengan tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia,” ungkap Komang, Manajer Biorock di Tamansari Bali.  “Proyek ini adalah yang pertamakali di Indonesia, sekaligus terbesar. Semua karena adanya kesadaran dan keterlibatan masyarakat secara penuh.Ada beberapa proyek serupa biorock di tempat lain, tetapi tidak sepenuhnya berhasil seperti di Pemuteran karena tidak kuatnya dukungan dari masyarakat,” tambah Komang.
Kini ratusan spesies ikan kembali ke rumah mereka di Pemuteran, dan setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Ke depannya, proyek biorock ini akan mengembangkan sumber energi listrik dari tenaga surya dengan memasang panel surya di sekitar pantai untuk memastikan bahwa proyek ini memang sangat ramah lingkungan. Kendati biaya operasional masih kembang kempis, namun Komang yakin dengan kesuksesan yang diraih lewat biorock ini, masa depan wisata dan warga di wilayah ini akan semakin baik di masa mendatang.
Kini, apapun yang anda butuhkan, Pemuteran menyediakannya. Foto: Aji Wihardandi
Alam Lestari, Kembalinya Harapan Hidup Warga Pemuteran
Wajah desa Pemuteran kini berubah total. Dari sebuah desa kering kerontang tanpa gairah, kini menjadi sebuah kantung penghasilan yang memberikan kehidupan bagi warga setempat. Secara sosial dan ekonomi, berbagai perubahan kini dirasakan oleh masyarakat sekitar. “Ya syukurlah, sekarang sudah ada tempat bekerja. Dulu kami bingung mau kerja apa disini. Sejak ada pariwisata, anak-anak sekarang menjadi lebih rajin bersekolah. Dulu teman-teman saya jarang ada yang melanjutkan sekolah,” ungkap Gede Iswan, salah satu warga Pemuteran yang sudah 16 tahun bekerja di bidang jasa pariwisata.
Penduduk sekitar Pemuteran, kini bisa tersenyum setelah alam mereka kembali pulih dan mendatangkan rezeki dari sektor pariwisata. Foto: Aji Wihrdandi
Jika kita menyusuri jalan-jalan di seputar desa, kini berbagai layanan penunjang wisata banyak bertebaran di sepanjang jalan. Mulai dari penginapan, restoran dari berbagai kelas, jasa cuci baju, pemandu dan penyedia layanan snorkling dan menyelam, gerai suvenir, hingga layanan transportasi ke berbagai wilayah. “Dulu, mana ada rumah bagus di Pemuteran. sekarang kondisi rumah-rumah sudah jauh lebih baik disini. Jika dulu penduduk itu paling hanya satu dua orang yang memiliki motor, sekarang rata-rata satu rumah minimal memiliki satu motor sebagai alat transportasi mereka,” jelas Wayan Merta, mantan kepala desa di Pemuteran.
Gede Iswan, sudah 16 tahun dirinya bekerja di sektor pariwisata sejak awal Pemuteran berkembang menjadi lokasi wisata. Foto: Aji Wihardandi
Dari 8000 jumlah penduduk di Desa Pemuteran, kini 30% dari mereka adalah pekerja sektor pariwisata. Selebihnya masih menjadi petani, ataupun nelayan yang menjadi bagian dari wisata itu sendiri. Semua hotel dan penginapan di wilayah ini, mempekerjakan penduduk setempat sebagai karyawan. Hanya segelintir penduduk yang berasal dari luar Pemuteran yang bekerja di sektor pariwisata di tempat ini, itu pun terbatas hanya di beberapa posisi strategis pengambil keputusan dan manajerial. Selebihnya, sekitar 90% karyawan, adalah penduduk lokal. Mereka bekerja di bagian pemeliharaan, makanan, pemandu selam, dan semua sektor dalam bidang jasa ini.
Pemuteran, Go International….
Kesadaran masyarakat menjaga alam sekitar mereka, dan kesuksesan I Gusti Agung Prana bersama dua pakar Biorock mengembalikan wajah terumbu karang dunia kini bahkan sudah dikenal dunia. berbagai penghargaan tingkat dunia, kini mereka kantungi sebagai bukti pengakuan dunia atas kerja keras mereka. Penghargaan paling prestisius diraih setahun silam, saat UNDP mengumumkan proyek biorock yang diinisiasi oleh I Gusti Agung Prana di Desa Pemuteran sebagai salah satu pemenang Equator Prize. Penghargaan ini diberikan kepada pahlawan-pahlawan lingkungan di seluruh dunia, yang mampu mengubah wajah alam dan lingkungan dan memberikan manfaat secara maksimal bagi manusia.
Pemuteran, menjadi salah satu dive site terbaik di Bali saat ini. Foto: Aji Wihardandi
Para wisatawan sendiri mengakui, Pemuteran adalah salah satu lokasi penyelaman yang akan mereka datangi kembali di masa mendatang setelah mereka merasakan keindahannya dalam kunjungan pertama mereka.
Papan peringatan bagi para penyelam, agar tidak merusak dan menginjak terumbu karang yang ada di perairan Pemuteran. Foto: Aji Wihardandi
Seperti yang disampaikan oleh salah satu wisatawan bernama Annette Denham, yang berasal dari Australia. “Ini adalah salah satu lokasi penyelaman terbaik yang pernah saya temui. Saya sudah menyelam ke berbagai wilayah penyelaman di dunia, dan Pemuteran memang indah. Saya akan kembali lagi suatu saat kemari. Tentu saja, saya salut atas kerja keras seluruh warga desa yang selama ini ikut menjaga keindahan dan keberlangsungan alam bawah laut di Pemuteran. Saya salut kepada mereka,” ungkap Annette.

Teluk Pemuteran, Kisah Sukses Komunitas Desa Mengembalikan Terumbu Karang dari Kehancuran
http://1.bp.blogspot.com/-8GCftrZWOvU/U9idCC2C3qI/AAAAAAAACqA/bojayq_1Dwo/s72-c/teluk+pemuteran.jpg
Baca
Nelayan Buleleng Manfaatkan Energi Surya Terangi Aktivitas Melaut

Nelayan Buleleng Manfaatkan Energi Surya Terangi Aktivitas Melaut

BULELENG,
Seiring dengan menipisnya cadangan energi fosil, penggunaan energi alternatif dan terbarukan kini semakin marak. Salah satunya adalah energi surya atau sinar matahari yang melimpah di tanah air kita, yang menyinari sepanjang tahun tanpa jeda.
Hal ini menginspirasi lembaga perlindungan terumbu karang di Bali, Reef Check Indonesiauntuk menggunakan tenaga surya yang bisa didapat gratis dan ramah lingkungan ini untuk membantu nelayan di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali sebagai sumber energi mereka. Terutama dalam aktivitas mencari nafkah mereka di saat mereka bekerja, yaitu untuk memenuhi penerangan saat melaut.
Sebuah solar panel dipasang di balai kelompok untuk mengisi ulang tenaga listrik yang digunakan sebagai sumber tenaga. Nelayan harus mengisi ulang bateri atau aki mereka sebelum digunakan untuk melaut di malam harinya. Prinsip kerjanya sederhana, yaitu seperti alat pengisi ulang telepon  genggam, namun ini menggunakan tenaga surya yang dikumpulkan lewat panel solar.
Dengan panel surya, berarti bensin yang dibutuhkan berkurang serta mengurangi biaya bagi nelayan dan tentunya lebih ramah lingkungan. Kegiatan ini juga memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa sumber daya energi dari matahari cukup melimpah dan bisa dimanfaatkan.
RCI melalui Derta Prabuning – Bag. Pengembangan Program, mengatakan bahwa kegiatan percontohan ini cukup menarik bagi para nelayan sehingga diperlukan sosialisasi lebih lanjut sehingga kedepannya dapat mendukung mata pencaharian mereka.
Para nelayan sendiri menyambut baik upaya ini karena mereka bisa menghemat pengeluaran untuk aktivitas mencari ikan, sekaligus menerapkan penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan dan menekan emisi bahan bakar. Sebelumnya, banyak nelayan mengeluh akibat tingginya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan energi untuk genset mereka.
“Setidaknya membutuhkan 35 ribu – 50 ribu sekali melaut (untuk membeli bahan bakar untuk genset), belum termasuk bahan bakar untukJukung (perahu tradisional Bali).” Ungkap Made Darmika, Ketua Kelompok Nelayan yang juga salah satu motor kegiatan pelestarian terumbu karang di desa Tejakula kepada Bali Post, akhir September lalu.
Energi surya adalah salah satu energi alternatif yang masih belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia, kendati Indonesia dikaruniai panas matahari melimpah sepanjang tahun.

BULELENG,
Seiring dengan menipisnya cadangan energi fosil, penggunaan energi alternatif dan terbarukan kini semakin marak. Salah satunya adalah energi surya atau sinar matahari yang melimpah di tanah air kita, yang menyinari sepanjang tahun tanpa jeda.
Hal ini menginspirasi lembaga perlindungan terumbu karang di Bali, Reef Check Indonesiauntuk menggunakan tenaga surya yang bisa didapat gratis dan ramah lingkungan ini untuk membantu nelayan di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali sebagai sumber energi mereka. Terutama dalam aktivitas mencari nafkah mereka di saat mereka bekerja, yaitu untuk memenuhi penerangan saat melaut.
Sebuah solar panel dipasang di balai kelompok untuk mengisi ulang tenaga listrik yang digunakan sebagai sumber tenaga. Nelayan harus mengisi ulang bateri atau aki mereka sebelum digunakan untuk melaut di malam harinya. Prinsip kerjanya sederhana, yaitu seperti alat pengisi ulang telepon  genggam, namun ini menggunakan tenaga surya yang dikumpulkan lewat panel solar.
Dengan panel surya, berarti bensin yang dibutuhkan berkurang serta mengurangi biaya bagi nelayan dan tentunya lebih ramah lingkungan. Kegiatan ini juga memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa sumber daya energi dari matahari cukup melimpah dan bisa dimanfaatkan.
RCI melalui Derta Prabuning – Bag. Pengembangan Program, mengatakan bahwa kegiatan percontohan ini cukup menarik bagi para nelayan sehingga diperlukan sosialisasi lebih lanjut sehingga kedepannya dapat mendukung mata pencaharian mereka.
Para nelayan sendiri menyambut baik upaya ini karena mereka bisa menghemat pengeluaran untuk aktivitas mencari ikan, sekaligus menerapkan penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan dan menekan emisi bahan bakar. Sebelumnya, banyak nelayan mengeluh akibat tingginya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan energi untuk genset mereka.
“Setidaknya membutuhkan 35 ribu – 50 ribu sekali melaut (untuk membeli bahan bakar untuk genset), belum termasuk bahan bakar untukJukung (perahu tradisional Bali).” Ungkap Made Darmika, Ketua Kelompok Nelayan yang juga salah satu motor kegiatan pelestarian terumbu karang di desa Tejakula kepada Bali Post, akhir September lalu.
Energi surya adalah salah satu energi alternatif yang masih belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia, kendati Indonesia dikaruniai panas matahari melimpah sepanjang tahun.

Nelayan Buleleng Manfaatkan Energi Surya Terangi Aktivitas Melaut
http://2.bp.blogspot.com/-oG5ZDO_fsSw/U9icml08OUI/AAAAAAAACp4/_KI79gTSBdE/s72-c/visitor-facility_energy-storage-that-installed-on-fisherman-boat.jpeg
Baca
Nelayan Lokal Kini Semakin Aktif Awasi Terumbu Karang Buleleng

Nelayan Lokal Kini Semakin Aktif Awasi Terumbu Karang Buleleng

BULELENG,
Berbagai upaya perlindungan terumbu karang di perairan Indonesia terus dilakukan. Terkait hal tersebut, keterlibatan masayarakat dalam perlindungan ekosistem laut di wilayah lokal dinilai sangat penting. Seperti yang dilakukan oleh Reef Check Indonesia, sebuah organisasi konservasi kelautan yang bermarkas di Bali. Mereka baru saja menggelar pelatihan pengawasan kondisi terumbu karang dan kehidupan bawah laut.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan nelayan lokal kemampuan dan pengetahuan untuk mengecek kondisi terumbu karang di wilayah mereka secara reguler, seperti disampaikan oleh Derta Prabuning, Program Development Officer Reef Check Indonesia kepada Bali Daily. “Pasca pelatihan mereka memiliki pengetahuan untuk melakukan pengawasan di kawasan pesisir mereka secara mandiri. Pelatihan pengawasan terumbu karang ini disesuaikan dengan standar internasional,” ungkap Prabuning kepada Bali Daily.
Pelatihan ini melibatkan belasan nelayan dari beberapa desa di seputar Buleleng, yaitu Penuktukan, Les, Bondalem dan Tejakula, yang sudah dikondisikan sebagai Kawasan Laut yang Dikelola Secara Lokal. Upaya konservasi berbasis masyarakat ini, nelayan bersama dengan warga desa yang tinggal di keempat desa tadi, diharapkan bisa terlibat secara penuh dalam berbagai uaya perlindungan dan konservasi laut di wilayah mereka.
Dalam pelatihan yang dilaksanakan selama empat hari ini Reef Check Indonesia bekerjasama dengan Marine Divers Club dari Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah. Ice Tresnawati, dari Universitas Diponegoro menyatakan bahwa komunitas lokal sudah paham betapa pentingnya melindungi dan menyelamatkan wilayah pesisir dan kehidupan bawah laut sebagai sumber utama kehidupan mereka. “Upaya konservasi yang diakukan di wilayah ini sejauh ini dilakukan dengan inisiatif dari pemerintah dengan dorongan kuat dari semua lembaga pemerintah, namun di saat bersamaan komunitas lokal kadang dilupakan dari program ini,” jelasnya.
Dari hasil análisis sementara kondisi laut di sekitar tempat pelatihan di Buleleng, beberapa ikan yang dilindungi masih belum terlihat di sini. Diharapkan, setelah pelatihan ini dilakukan, sejumlah spesies ikan akan kembali ke perairan ini.

BULELENG,
Berbagai upaya perlindungan terumbu karang di perairan Indonesia terus dilakukan. Terkait hal tersebut, keterlibatan masayarakat dalam perlindungan ekosistem laut di wilayah lokal dinilai sangat penting. Seperti yang dilakukan oleh Reef Check Indonesia, sebuah organisasi konservasi kelautan yang bermarkas di Bali. Mereka baru saja menggelar pelatihan pengawasan kondisi terumbu karang dan kehidupan bawah laut.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan nelayan lokal kemampuan dan pengetahuan untuk mengecek kondisi terumbu karang di wilayah mereka secara reguler, seperti disampaikan oleh Derta Prabuning, Program Development Officer Reef Check Indonesia kepada Bali Daily. “Pasca pelatihan mereka memiliki pengetahuan untuk melakukan pengawasan di kawasan pesisir mereka secara mandiri. Pelatihan pengawasan terumbu karang ini disesuaikan dengan standar internasional,” ungkap Prabuning kepada Bali Daily.
Pelatihan ini melibatkan belasan nelayan dari beberapa desa di seputar Buleleng, yaitu Penuktukan, Les, Bondalem dan Tejakula, yang sudah dikondisikan sebagai Kawasan Laut yang Dikelola Secara Lokal. Upaya konservasi berbasis masyarakat ini, nelayan bersama dengan warga desa yang tinggal di keempat desa tadi, diharapkan bisa terlibat secara penuh dalam berbagai uaya perlindungan dan konservasi laut di wilayah mereka.
Dalam pelatihan yang dilaksanakan selama empat hari ini Reef Check Indonesia bekerjasama dengan Marine Divers Club dari Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah. Ice Tresnawati, dari Universitas Diponegoro menyatakan bahwa komunitas lokal sudah paham betapa pentingnya melindungi dan menyelamatkan wilayah pesisir dan kehidupan bawah laut sebagai sumber utama kehidupan mereka. “Upaya konservasi yang diakukan di wilayah ini sejauh ini dilakukan dengan inisiatif dari pemerintah dengan dorongan kuat dari semua lembaga pemerintah, namun di saat bersamaan komunitas lokal kadang dilupakan dari program ini,” jelasnya.
Dari hasil análisis sementara kondisi laut di sekitar tempat pelatihan di Buleleng, beberapa ikan yang dilindungi masih belum terlihat di sini. Diharapkan, setelah pelatihan ini dilakukan, sejumlah spesies ikan akan kembali ke perairan ini.

Nelayan Lokal Kini Semakin Aktif Awasi Terumbu Karang Buleleng
http://2.bp.blogspot.com/-yYTHRYtzjOc/U9ib2aJIyfI/AAAAAAAACpw/ANxQpuFIpHs/s72-c/kisah-kearifan-lokal-desa-les-melestarikan-terumbu-karang-buleleng.jpg
Baca
ANDRA AND THE BACKBONE-DDH TAMPIL DI BULFEST

ANDRA AND THE BACKBONE-DDH TAMPIL DI BULFEST

BULELENG,
DUA band dipastikan ikut ambil bagian dalam meramaikan Buleleng Festival, 6-10 Agustus mendatang. Dua band itu Andra and The Backbone serta Dialog Dini Hari, band asal Bali yang kini tengah banjir tawaran manggung di sejumlah daerah di Indonesia.
Selain dua band itu, tiga band local Bali juga dipastikan ambil bagian. Ketiganya adalah [XXX], Kis Band, dan Lolot n Band dengan formasi reuni. Kepastian hadirnya lima band lokal itu diungkapkan Tim Kreatif Buleleng Festival, Cok Aditya.
Cok mengaku sudah menyusun jadwal dengan kelima band itu melalui manajemennya. Sebenarnya ada beberapa band nasional lain yang tengah diincar agar bisa naik panggung di Buleleng Festival, namun sampai saat ini masih belum mencapai titik temu.
Cok menyatakan, kelima band itu hadir atas partisipasi pihak ketiga, alias melalui sponsor. “Semua band-band itu pakai dana dari sponsor, jadi tidak ada dana untuk mengundang band-band itu dari dana penyelenggaraan. Kami sudah kontak manajemen dan sponsor yang siap, dan semuanya sudah setuju,” ujarnya.
Rencananya, Andra and The Backbone akan tampil pada tanggal 9 Agustus, sementara Dialog Dini Hari akan tampil pada malam penutupan Buleleng Festival, yakni pada 10 Agustus mendatang. Bahkan sponsor disebut-sebut tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk mengundang kelima band itu. Alasannya mereka ingin merasakan antusiasme masyarakat Buleleng, dan ingin merasakan atmosfer panggung yang berbeda, ketika bermain dengan latar belakang Tugu Singa Ambara Raja.
Konon tim kreatif juga tengah mendekati Gede Bagus, jebolan ajang pencarian bakat X-Factor. Cok sendiri tak menampik jika tengah melakukan pendekatan. “Dengan Gede Bagus kami sudah sepakat, dan kami tinggal mencarikan jadwal lebih dulu. Sudah ada sponsor yang bersedia mendanai," imbuhnya.
Sebelum menggandeng Andra and The Backbone, ia mengaku sempat menjalin komunikasi dengan manajemen J-Rocks yang mengusung aliran Japanese Rocks. Hanya saja tim kreatif akhirnya memutuskan untuk menggandeng Andra and The Backbone untuk tampil dalam Buleleng Festival.

BULELENG,
DUA band dipastikan ikut ambil bagian dalam meramaikan Buleleng Festival, 6-10 Agustus mendatang. Dua band itu Andra and The Backbone serta Dialog Dini Hari, band asal Bali yang kini tengah banjir tawaran manggung di sejumlah daerah di Indonesia.
Selain dua band itu, tiga band local Bali juga dipastikan ambil bagian. Ketiganya adalah [XXX], Kis Band, dan Lolot n Band dengan formasi reuni. Kepastian hadirnya lima band lokal itu diungkapkan Tim Kreatif Buleleng Festival, Cok Aditya.
Cok mengaku sudah menyusun jadwal dengan kelima band itu melalui manajemennya. Sebenarnya ada beberapa band nasional lain yang tengah diincar agar bisa naik panggung di Buleleng Festival, namun sampai saat ini masih belum mencapai titik temu.
Cok menyatakan, kelima band itu hadir atas partisipasi pihak ketiga, alias melalui sponsor. “Semua band-band itu pakai dana dari sponsor, jadi tidak ada dana untuk mengundang band-band itu dari dana penyelenggaraan. Kami sudah kontak manajemen dan sponsor yang siap, dan semuanya sudah setuju,” ujarnya.
Rencananya, Andra and The Backbone akan tampil pada tanggal 9 Agustus, sementara Dialog Dini Hari akan tampil pada malam penutupan Buleleng Festival, yakni pada 10 Agustus mendatang. Bahkan sponsor disebut-sebut tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk mengundang kelima band itu. Alasannya mereka ingin merasakan antusiasme masyarakat Buleleng, dan ingin merasakan atmosfer panggung yang berbeda, ketika bermain dengan latar belakang Tugu Singa Ambara Raja.
Konon tim kreatif juga tengah mendekati Gede Bagus, jebolan ajang pencarian bakat X-Factor. Cok sendiri tak menampik jika tengah melakukan pendekatan. “Dengan Gede Bagus kami sudah sepakat, dan kami tinggal mencarikan jadwal lebih dulu. Sudah ada sponsor yang bersedia mendanai," imbuhnya.
Sebelum menggandeng Andra and The Backbone, ia mengaku sempat menjalin komunikasi dengan manajemen J-Rocks yang mengusung aliran Japanese Rocks. Hanya saja tim kreatif akhirnya memutuskan untuk menggandeng Andra and The Backbone untuk tampil dalam Buleleng Festival.

ANDRA AND THE BACKBONE-DDH TAMPIL DI BULFEST
http://3.bp.blogspot.com/-Y31NjkI_xbA/U9iKGXmdUKI/AAAAAAAACpg/S1nIber-zes/s72-c/Jadwal_Konser_Andra_and_The_Backbone_2013_(April_2013).jpg
Baca
Jelang Bulfest, Jumlah Penari Nelayan Terus Membludak

Jelang Bulfest, Jumlah Penari Nelayan Terus Membludak

BULELENG,
Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Buleleng, Jumat (25/7/2014) benar-benar padat. Puluhan guru dari SMA/SMK, SMP, hingga dosen dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), memadati kantor tersebut, sebab puluhan guru itu diundang untuk rapat finalisasi persiapan Tari Nelayan Massal. Tarian ini rencananya akan ditarikan oleh seribu orang penari yang berasal dari kalangan mahasiswa, siswa SMA/SMK, dan siswa SMP. Saking banyaknya guru yang hadir, rapat dilangsungkan dua tahap. Tahap pertama untuk guru SMA/SMK, dan tahap kedua untuk guru SMP dan dosen.
Ketua Panitia Buleleng Festival 2014, Gede Suyasa mengaku, animo siswa untuk ikut menarikan tarian yang diciptakan seniman tari asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, I Ketut Mardana itu. Sampai kemarin, jumlah penari terus bertambah, dan jumlahnya mendekati angka 1.000 orang penari. “Banyak sekolah yang terus menambah jumlah pesertanya, terutama dari SMP. Misalnya ada SMP yang dulunya bilang sanggup satu penari, sekarang bertambah jadi empat penari, malah bisa lima penari. Ada juga dari teman-teman guru sekolah dasar. Tapi untuk sekolah dasar, saya belum berikan kepastian saya terima ikut serta atau tidak,” ujar Suyasa.
Suyasa yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Buleleng itu menduga, tingginya animo peserta disebabkan semangat penari yang timbul. Selain itu menarikan tarian ciptaan seniman asal Buleleng, dengan ratusan penari lain di saat yang sama, dan dilakukan diatas jalan raya, akan memberikan kesempatan dan kenangan yang langka. Baik bagi penari, maupun masyarakat yang menyaksikan.
Dari layout sementara, panitia memperkirakan penari itu akan sampai didepan RSUD Buleleng, yang berjarak sekitar satu kilometer dari panggung utama. Bahkan tak menutup kemungkinan penari akan sampai di Taman Kota Singaraja. Sehingga panitia harus benar-benar mempersiapkan audio yang baik untuk tarian massal itu. “Ya bisa jadi sampai Taman Kota. Sebenarnya kami tidak menyangka animonya sebesar ini. Kami juga tidak ada rencana mengejar rekor MURI, tidak ada rencana mengundang pihak MURI. Tapi kalau mau terlibat dengan sukarela, kami upayakan melibatkan,” imbuh Suyasa yang juga Kepala Bappeda Buleleng itu.
Disisi lain, sampai saat ini panitia telah memastikan ada 22 stand kuliner yang akan berjejer disepanjang Jalan Veteran, Singaraja, tepatnya didepan DPRD Buleleng. sedikitnya, akan ada 90 jenis menu kuliner khas Buleleng yang akan dijual disana. Beberapa kuliner unik yang akan dijual diantaranya serosob yuyu dan palem yuyu dari Kecamatan Banjar, rempeyek daun tapak kuda dari Kecamatan Kubutambahan.
Selain stand kuliner, ada pula stand untuk industri kecil menengah, industri kreatif masyarakat, dan juga perajin endek. Enam stand diantaranya dipastikan diisi oleh perajin pendek yang akan memamerkan potensik kain endek asli Buleleng. Panitia juga memastikan akan mengundang artis nasional pada 9 Agustus mendatang. J-Rocks yang semula diagendakan hadir, akan digantikan oleh Andra and The Backbone.

Via : BRU
BULELENG,
Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Buleleng, Jumat (25/7/2014) benar-benar padat. Puluhan guru dari SMA/SMK, SMP, hingga dosen dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), memadati kantor tersebut, sebab puluhan guru itu diundang untuk rapat finalisasi persiapan Tari Nelayan Massal. Tarian ini rencananya akan ditarikan oleh seribu orang penari yang berasal dari kalangan mahasiswa, siswa SMA/SMK, dan siswa SMP. Saking banyaknya guru yang hadir, rapat dilangsungkan dua tahap. Tahap pertama untuk guru SMA/SMK, dan tahap kedua untuk guru SMP dan dosen.
Ketua Panitia Buleleng Festival 2014, Gede Suyasa mengaku, animo siswa untuk ikut menarikan tarian yang diciptakan seniman tari asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, I Ketut Mardana itu. Sampai kemarin, jumlah penari terus bertambah, dan jumlahnya mendekati angka 1.000 orang penari. “Banyak sekolah yang terus menambah jumlah pesertanya, terutama dari SMP. Misalnya ada SMP yang dulunya bilang sanggup satu penari, sekarang bertambah jadi empat penari, malah bisa lima penari. Ada juga dari teman-teman guru sekolah dasar. Tapi untuk sekolah dasar, saya belum berikan kepastian saya terima ikut serta atau tidak,” ujar Suyasa.
Suyasa yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Buleleng itu menduga, tingginya animo peserta disebabkan semangat penari yang timbul. Selain itu menarikan tarian ciptaan seniman asal Buleleng, dengan ratusan penari lain di saat yang sama, dan dilakukan diatas jalan raya, akan memberikan kesempatan dan kenangan yang langka. Baik bagi penari, maupun masyarakat yang menyaksikan.
Dari layout sementara, panitia memperkirakan penari itu akan sampai didepan RSUD Buleleng, yang berjarak sekitar satu kilometer dari panggung utama. Bahkan tak menutup kemungkinan penari akan sampai di Taman Kota Singaraja. Sehingga panitia harus benar-benar mempersiapkan audio yang baik untuk tarian massal itu. “Ya bisa jadi sampai Taman Kota. Sebenarnya kami tidak menyangka animonya sebesar ini. Kami juga tidak ada rencana mengejar rekor MURI, tidak ada rencana mengundang pihak MURI. Tapi kalau mau terlibat dengan sukarela, kami upayakan melibatkan,” imbuh Suyasa yang juga Kepala Bappeda Buleleng itu.
Disisi lain, sampai saat ini panitia telah memastikan ada 22 stand kuliner yang akan berjejer disepanjang Jalan Veteran, Singaraja, tepatnya didepan DPRD Buleleng. sedikitnya, akan ada 90 jenis menu kuliner khas Buleleng yang akan dijual disana. Beberapa kuliner unik yang akan dijual diantaranya serosob yuyu dan palem yuyu dari Kecamatan Banjar, rempeyek daun tapak kuda dari Kecamatan Kubutambahan.
Selain stand kuliner, ada pula stand untuk industri kecil menengah, industri kreatif masyarakat, dan juga perajin endek. Enam stand diantaranya dipastikan diisi oleh perajin pendek yang akan memamerkan potensik kain endek asli Buleleng. Panitia juga memastikan akan mengundang artis nasional pada 9 Agustus mendatang. J-Rocks yang semula diagendakan hadir, akan digantikan oleh Andra and The Backbone.

Via : BRU
Jelang Bulfest, Jumlah Penari Nelayan Terus Membludak
http://4.bp.blogspot.com/-xwFRKX6mM4w/U9iH3yucDrI/AAAAAAAACpU/ngLkJkY4DoQ/s72-c/tari+nelayan.JPG
Baca
Lebaran, Bupati dan Wabup Buleleng Silahturahmi ke Jokowi

Lebaran, Bupati dan Wabup Buleleng Silahturahmi ke Jokowi

BULELENG,
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan Wakil Bupati dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG menyempatkan waktu untuk mengucapkan selamat Idul Fitri pada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode tahun 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla di kediaman rumah Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar nomor 27 Menteng, Jakarta, Senin 28/7.Kedua pimpinan daerah ini kompak mengenakan pakaian endek khas Kabupaten Buleleng. Sementara Jokowi mengenakan batik bercorak hijau yang saat itu didampingi sang istri Iriana. Bupati Agus Suradnyana usai silahturahmi mengatakan maksud dan tujuan dirinya bersama dengan Wakil Bupati terbang ke Jakarta adalah untuk mempererat silahturahmi dengan Presiden terpilih Jokowi dan Megawati Soekarnoputri beserta keluarga yang sudah terjalin sejak lama. Agus Suradnyana menambahkan, jika beberapa hari yang lalu dirinya menjamu Megawati di kawasan puncak Bedugul. Sementara khusus kepada Jokowi, Bupati Suradnyana memiliki agenda lain yakni mengundang Jokowi untuk hadir pada Buleleng Festival yang sedianya digelar 6-10 Agustus 2014. "Ya tadi saya menyampaikan dan memberikan undangan resmi Bulfest dan BEC kepada Bapak Jokowi. Sudah diagendakan oleh sekretarisnya. Informasinya kesiapan beliau hadir tgl 10 Agustus saat pelaksanaan Buleleng Endek Carnival" kata Suradnyana.Sementara Wakil Bupati Sutjidra mengatakan jika Jokowi hadir nanti saat Bulfest akan memberikan efek yang positif bagi Buleleng. "Kita bisa menjelaskan secara detail kepada Bapak Jokowi kondisi dan permasalahan pembangunan di Buleleng dengan harapan Buleleng bisa mendapatkan prioritas bantuan untuk pembangunan" harapnya.

Via : Humas Buleleng
BULELENG,
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan Wakil Bupati dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG menyempatkan waktu untuk mengucapkan selamat Idul Fitri pada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode tahun 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla di kediaman rumah Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar nomor 27 Menteng, Jakarta, Senin 28/7.Kedua pimpinan daerah ini kompak mengenakan pakaian endek khas Kabupaten Buleleng. Sementara Jokowi mengenakan batik bercorak hijau yang saat itu didampingi sang istri Iriana. Bupati Agus Suradnyana usai silahturahmi mengatakan maksud dan tujuan dirinya bersama dengan Wakil Bupati terbang ke Jakarta adalah untuk mempererat silahturahmi dengan Presiden terpilih Jokowi dan Megawati Soekarnoputri beserta keluarga yang sudah terjalin sejak lama. Agus Suradnyana menambahkan, jika beberapa hari yang lalu dirinya menjamu Megawati di kawasan puncak Bedugul. Sementara khusus kepada Jokowi, Bupati Suradnyana memiliki agenda lain yakni mengundang Jokowi untuk hadir pada Buleleng Festival yang sedianya digelar 6-10 Agustus 2014. "Ya tadi saya menyampaikan dan memberikan undangan resmi Bulfest dan BEC kepada Bapak Jokowi. Sudah diagendakan oleh sekretarisnya. Informasinya kesiapan beliau hadir tgl 10 Agustus saat pelaksanaan Buleleng Endek Carnival" kata Suradnyana.Sementara Wakil Bupati Sutjidra mengatakan jika Jokowi hadir nanti saat Bulfest akan memberikan efek yang positif bagi Buleleng. "Kita bisa menjelaskan secara detail kepada Bapak Jokowi kondisi dan permasalahan pembangunan di Buleleng dengan harapan Buleleng bisa mendapatkan prioritas bantuan untuk pembangunan" harapnya.

Via : Humas Buleleng
Lebaran, Bupati dan Wabup Buleleng Silahturahmi ke Jokowi
http://2.bp.blogspot.com/-Kd_GGvK8JWI/U9iG9y4EhII/AAAAAAAACpM/arDdDAVglbc/s72-c/bupati+buleleng.jpg
Baca
Lowongan Kerja Nirwana TV

Lowongan Kerja Nirwana TV



Lowongan Kerja Nirwana TV
http://3.bp.blogspot.com/-bSW9o3oVHBE/U9Rx-wFb8zI/AAAAAAAACo4/ObKTFqG1qlI/s72-c/lowongan.jpg
Baca
Dampak Proyek PLTU Celukan Bawang, Rumah Warga Retak-retak

Dampak Proyek PLTU Celukan Bawang, Rumah Warga Retak-retak

BULELENG,
Proyek PLTU Celukan Bawang, Buleleng, terus menuai keluhan warga. Setelah proyek menara saluran udara tegangan esktra tinggi (SUTET) ditolak, giliran warga di sekitar proyek PLTU mengeluh. Masalahnya, getaran pembangunan proyek tersebut membuat sejumlah rumah warga  dengan radius 100 meter mulai retak-retak. Seperti dialami  Ketut Mangku Wijana alias Kwi (52). Pria ini mengaku terganggu ketika PLTU memasang tiang pancang. Getaran mesin membuat genteng rumahnya bergeser dan tembok rumahnya retak di beberapa sisi sudut.  “Warga di sekitar PLTU Celukan Bawang merasakan dampak paling keras, jarak rumah saya  hanya 100 meter.  Sejak  pemasangan tiang pancang tahun 2010, kami merasakan getaran dan suara keras. Paling parah genteng bergeser dan tembok rumah retak,” keluhnya.
Dia mengaku sudah pernah ditemui pihak PLTU Celukan Bawang untuk ganti rugi. Namun proyek tetap saja berjalan dan ganti rugi menjadi mubazir. “ Setelah diganti rugi, besoknya proyek kerja lagi, bantuan itu percuma, sebab retak lagi temboknya,” keluhnya lagi. Rencananya akan dilakukan tukar guling rumah dan tanah warga di sekitar area PLTU. (BP)

BULELENG,
Proyek PLTU Celukan Bawang, Buleleng, terus menuai keluhan warga. Setelah proyek menara saluran udara tegangan esktra tinggi (SUTET) ditolak, giliran warga di sekitar proyek PLTU mengeluh. Masalahnya, getaran pembangunan proyek tersebut membuat sejumlah rumah warga  dengan radius 100 meter mulai retak-retak. Seperti dialami  Ketut Mangku Wijana alias Kwi (52). Pria ini mengaku terganggu ketika PLTU memasang tiang pancang. Getaran mesin membuat genteng rumahnya bergeser dan tembok rumahnya retak di beberapa sisi sudut.  “Warga di sekitar PLTU Celukan Bawang merasakan dampak paling keras, jarak rumah saya  hanya 100 meter.  Sejak  pemasangan tiang pancang tahun 2010, kami merasakan getaran dan suara keras. Paling parah genteng bergeser dan tembok rumah retak,” keluhnya.
Dia mengaku sudah pernah ditemui pihak PLTU Celukan Bawang untuk ganti rugi. Namun proyek tetap saja berjalan dan ganti rugi menjadi mubazir. “ Setelah diganti rugi, besoknya proyek kerja lagi, bantuan itu percuma, sebab retak lagi temboknya,” keluhnya lagi. Rencananya akan dilakukan tukar guling rumah dan tanah warga di sekitar area PLTU. (BP)

Dampak Proyek PLTU Celukan Bawang, Rumah Warga Retak-retak
http://2.bp.blogspot.com/-PhA1G8yyAdM/U9MbQyZx-NI/AAAAAAAACok/grZdawXvZUQ/s72-c/20120412113215348.jpg
Baca